Hari demi hari silih berganti, bulan demi bulan terus berlalu, hingga pada akhirnya kita bertemu dengan awal tahun lagi. Waktu terus berjalan, tidak pernah berhenti, sementara umur seorang hamba terus berkurang. Maka ketika tahun telah berganti, kita sepatutnya memperhatikan bagaimana sikap seorang muslim yang benar dalam menghadapi ini? Apakah kita harus gembira dan merayakannya?

Perlu diketahui, bahwa seorang muslim itu hitungan waktunya bukan per tahun, melainkan minimal per hari. Dimana seorang muslim per harinya dia akan muhasabah diri.  Menghisab dirinya dalam satu hari. Target amalan yang sudah tercapai apa saja, yang belum tercapai apa saja, serta kesalahan atau kemaksiatan yang dilakukan apa saja. Kemudian dia hisab sendiri mana yang lebih banyak. Setidaknya ini dilakukan sebelum tidur.

Sehingga seorang muslim itu kaleidoskopnya bukan kaleidoskop tahunan, tetapi harian. Maka tidak ada istilahnya saat ganti waktu – ganti hari, bulan, atau tahun – kemudian disikapi dengan gembira. Bahkan, melakukan hal-hal yang statusnya bermaksiat kepada Allah. Bukan, na’udzubillah. Euforia yang berlebihan terhadap pergantian waktu, tahun, milenium, abad, dan yang lainnya itu bukanlah sikap yang bijak yang mencerminkan seorang muslim sejati.

Di zaman Nabi ﷺ tidak pernah ada euforia yang berlebihan dalam merayakan sesuatu. Tidak ada. Ketika Nabi ﷺ memenangkan jihad fii sabilillah, apakah ada diriwayatkan bahwa Nabi ﷺ sampai berpesta pora, makan-makan, dan yang lainnya bersama para sahabat? Tidak ada. Kemudian, ketika Nabi ﷺ telah menaklukkan Kota Makkah, apakah Nabi ﷺ begitu gembiranya sampai semua sahabat diundang untuk makan-makan bersama? Tidak.

Sampai kemudian khalifah amirul mukminin, Umar bin Khattab radhiallahu’anhu, yang memiliki kebijakan di zaman beliau untuk membuat kalender hijriah sesuai dengan perhitungan kapan Nabi ﷺ  berhijrah, Beliau pun ketika ganti tahun tidak melakukan perayaan istimewa. Tidak ada. Semuanya dihadapi dengan biasa saja. Yang ada hanyalah menghisab diri sendiri.

Maka ketika fenomena pergantian tahun telah terjadi, seorang muslim yang bijak akan menyikapinya dengan penuh takwa dan penuh takut kepada Allah. Dia pasti akan mengontrol dirinya untuk tidak terombang-ambing dengan arus. Dan, dia bisa dengan tepat memilih sikap yang bijak dalam hal ini. Harusnya ketika ganti waktu atau ganti tahun, kita menyesali dosa-dosa yang telah lalu. Bertaubat kepada Allah dan kemudian bangkit untuk semangat beramal shalih di waktu yang mendatang.

Marilah kita gunakan nikmat waktu awal tahun ini dalam rangka untuk memperbaiki diri, muhasabah diri. Amal-amal yang telah dilakukan pada tahun sebelumnya dievaluasi dan dijadikan pembelajaran. Jangan sampai diri kita di tahun ini tidak berubah menjadi lebih baik, atau bahkan menjadi pribadi yang lebih buruk daripada tahun sebelumnya. Semoga kita diberikan hidayah, keberkahan, dan keistiqamahan oleh Allah dalam menjalani waktu yang silih berganti di dunia ini.

 

Faedah kajian “Seorang Muslim dalam Menghargai Waktu”
Bersama Ustadz Rizki Amipon Dasa
Di Masjid Pogung Dalangan