Kita tahu bahwa Masjid Nabawi adalah masjid yang sangat mulia. Masjid yang memiliki keutamaan yang istimewa dibandingkan dengan masjid-masjid lainnya. Hal ini sudah disampaikan langsung oleh Rasulullah ﷺ sendiri.
“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190)
Namun, ada suatu amalan yang apabila kita kerjakan akan mendapatkan ganjaran yang melebihi pahala i’tikaf di Masjid Nabawi selama sebulan penuh. Siapa yang di antara kita pernah i’tikaf di masjid yang mulia ini selama sebulan lamanya? Mungkin tidak ada. Akan tetapi, kita bisa mendapatkan keutamaan yang melebihi amalan i’tikaf di Masjid Nabawi sebulan dengan cara yang lain. Amalan apa itu?
Dari Ibnu ‘Umar radhiallahu’anhu, Nabi ﷺ bersabda,
“Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia.”
Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain, membayarkan hutangnya atau menghilangkan rasa laparnya.
Sungguh aku berjalan bersama saudaraku yang muslim untuk sebuah keperluan lebih aku cintai daripada beri’tikaf di masjid ini (Masjid Nabawi) selama sebulan penuh.” (HR. Thabrani no. 13280).
Kenapa Nabi ﷺ lebih mencintai memenuhi hajat saudara-saudara beliau daripada i’tikaf di Masjid Nabawi selama sebulan penuh? Kata para ulama, karena membantu orang lain itu bisa menghasilkan manfaat yang lebih banyak. Tidak hanya manfaatnya untuk diri pribadi, tetapi juga kepada orang lain.
Di dalam agama kita, kata para ulama, ibadah itu terbagi menjadi dua jenis, yakni Amalan Qaashir dan Muta’addi. Apa itu amalan Qaashir dan Muta’addi? Amalan Qaashir adalah amalan yang kebaikannya terbatas hanya untuk diri sendiri. Seperti puasa, shalat, dan i’tikaf. Sedangkan, amalan Muta’addi adalah amalan yang kebaikannya tidak sebatas untuk diri sendiri tetapi bermanfaat untuk orang lain juga. Seperti membantu orang lain, memberi sedekah, menjenguk orang sakit, dan sebagainya.
Mana yang lebih utama? para ulama menjelaskan bahwa amalan Muta’addi lebih utama daripada amalan Qaashir yang kebaikannya terbatas pada diri sendiri saja. Maksudnya adalah amalan-amalan sunnah ketika itu bermanfaat bagi orang lain maka itu lebih utama dan lebih dicintai oleh Allah Ta’ala. Sehingga, hendaknya selain kita semangat memperbanyak amalan-amalan ibadah yang kebaikannya kembali pada diri kita, kita juga berupaya meraih amalan-amalan yang berdampak pada orang-orang di sekitar kita.
Maka dari itu, marilah kita berupaya untuk menjadi insan yang memberikan manfaat di mana saja kita berada Baik itu di lingkungan keluarga, masyarakat, tempat kerja, atau lingkungan pertemanan kita. Menjadi orang-orang yang senantiasa memberikan manfaat kepada orang lain.
- Mungkin bisa dengan menjaga lisan kita dengan berkata-kata yang baik,
- Dengan memberi senyuman kepada orang yang kita temui,
- Dengan memberi nasihat kepada teman yang membutuhkan nasihat,
- Dengan memberi harta kepada orang-orang yang membutuhkan,
- atau yang lainnya.
Yang jelas kita memberikan manfaat kepada orang lain. Maka ini adalah amalan yang utama.
Faedah khutbah Jum’at yang berjudul “Manusia yang Terbaik”
Dengan khatib Ustadz Adika Mianoki
Di Masjid Pogung Dalangan